Marvel’s Wolverine sebenernya punya potensi besar buat jadi game action superhero terbaik tahun ini, tapi sayangnya hal itu cuma berlaku kalau eksekusinya bener-bener tepat dari awal sampai akhir. Rilis secara eksklusif di PlayStation 5, game action hack-and-slash terbaru garapan Insomniac Games ini awalnya emang kelihatan sangat menjanjikan. Di tiga jam pertama main, kalian bakal ngerasa bener-bener beringas dan keren banget pas mengendalikan mutant legendaris yang satu ini. Tapi anehnya, begitu kalian mulai masuk ke pertengahan game, bakal ada rasa janggal yang perlahan muncul. Kalian bakal sadar ada sesuatu yang salah sama sistem bertarungnya, sampai timbul pertanyaan besar di kepala: kenapa studio raksasa sebesar Insomniac bisa sampai kecolongan di poin yang sangat krusial ini?

Konsep Padat dan Sajian Variasi Content
Kalau dilihat dari urusan gameplay secara keseluruhan, game ini emang nggak cuma nawarin aksi tebas-tebasan biasa. Sekilas variasi gameplay-nya berasa rame dan penuh isi. Insomniac nyoba masukin berbagai elemen menarik, mulai dari mekanik stealth, adegan aksi kejar-kejaran naik motor yang seru, mini-games yang unik, sampai alur cerita klasik tentang Logan yang berjuang bareng Team X melawan industri anti-mutan. Secara konsep dan kuantitas konten, game ini kerasa padat banget dan mampu memberikan kepuasan tersendiri, terutama buat kalian yang dari dulu emang penggemar berat kisah Wolverine. Tapi di balik semua keseruan awal itu, ada efek samping unik yang sengaja saya rasain pas berusaha mainin game ini sampai tamat.
Alur Cerita Klasik dengan Penulisan Karakter yang Potensial Kuat

Dari segi cerita, premis yang dibawakan sebenarnya tergolong cukup klasik dan familiar. Taruhannya ada pada perjuangan kubu X-Men yang harus bertahan hidup dan bertarung melawan faksi anti-mutant. Di sini, Logan tentunya masuk ke dalam kubu X-Men dan bergerak bersama Tim X yang diisi oleh nama-nama ikonik seperti Sabertooth dan Mystique. Saya jelas nggak bisa ngebocorin alur ceritanya terlalu banyak demi menghindari spoiler, tapi satu hal penting yang mesti sampaikan adalah plot utamanya kerasa sangat mudah ditebak. Jalan cerita yang tebak-able sebenernya bukan selalu hal yang buruk, cuma sangat disayangkan elemen kejutan yang mestinya bisa dimanfaatkan buat mendongkrak ketegangan cerita malah gagal dieksekusi dengan maksimal.

Walaupun plot utamanya kerasa lempeng-lempeng aja, saya pribadi cukup senang dan puas dengan penulisan karakterisasi di dalamnya. Dinamika hubungan antara Logan dan Sabertooth yang selalu diwarnai hubungan akur-gak-akur berhasil ditampilkan dengan sangat apik. Nggak cuma itu, hadirnya karakter pendukung lain juga secara mengejutkan sanggup bikin tersentuh, padahal di awal kedatangannya sempat bikin sebel. Karakter tersebut adalah si kecil berwarna hijau, Leech. Interaksi dan kehangatan sikap Logan saat berhadapan dan ngobrol dengan anak kecil ini bener-bener memberikan sentuhan kemanusiaan yang emosional. Jadi bisa dibilang, dari segi cerita, hook-nya emang dapet banget di awal, tapi seiring berjalannya cerita rasanya jadi agak hambar atau meh, kecuali kalau kalian emang fans berat Marvel yang bakalan sangat dimanjakan sama taburan fan service di mana-mana.
Mekanik Combat yang Cepat Terasa Monoton

Baca ini juga :
» Review Death Stranding 2: On The Beach (PC)
» Review Ghost of Yōtei
» Review Marvel Spider-Man 2
» 7 Alasan Wajib Main Rise of the Ronin! Game Open World Rasa Souls Eksklusif Paling Dinanti
» 8 Tips Menjadi Ronin Terbaik di Game Open World Terbaru, Rise of the Ronin
» Rise of the Ronin - Review
» Spider-Man: Across the Spider-verse
» Guardians of the Galaxy Volume 3

Sayangnya, daya tarik karakter dan cerita game ini nggak diimbangi dengan eksekusi mekanik pertarungan yang punya ritme konsisten. Kombinasi serangan di game ini dirancang sangat gampang dipahami, variasi gerakannya kerasa sangat familiar, dan urusan skill tree-nya pun tergolong simpel tanpa bikin pemain pusing. Dampak negatif dari kesederhanaan ini adalah ritme bertarungnya yang cepat sekali kerasa prediktabel. Kalian cuma dibekali light attack, heavy attack, skill khusus, dan rage mode. Pas kalian masuk ke rage mode, damage dari Wolverine emang langsung melonjak drastis kayak orang kesetanan yang kerasukan insting liar. Tapi mekanisme ini bikin sesi combat lama-kelamaan jadi monoton. Rasa beringas dan brutal yang terasa mengejutkan di beberapa jam pertama perlahan luntur. Harapan kalau unlock skill baru bakal membuka koreografi pertarungan yang lebih kompleks dan mantap ternyata patah gitu aja, karena perubahannya terasa biasa aja.



