space
REVIEW MARVEL'S WOLVERINE
PS5
4 Hari yang lalu

Elemen Stealth dan Kebrutalan yang Terasa Canggung



Hal lain yang bikin dahi berkerut adalah hadirnya opsi variasi stealth untuk mengeliminasi musuh secara instan. Jujur aja, pas coba fitur ini pasti sempet terlintas di pikiran: ngapain juga seorang Wolverine harus ngumpet-ngumpet di semak-semak? Karakter ini kan terkenal punya healing factor super ampuh, mau ditebas atau ditembak beruntun pun dia bakal tetep baik-baik aja dan tinggal nerabas musuh secara ugal-ugalan. Harusnya dev memanfaatkan reputasi kebrutalan Wolverine dengan merancang variasi gerakan yang bener-bener sadis. Kebrutalan yang ada di game ini kerasa tanggung karena cuma sebatas pemotongan tangan, kaki, atau kepala. Padahal bakal jauh lebih epic kalau visual kebrutalannya disajikan secara meledak-ledak dan detail, mirip kayak estetika gore yang sering kita lihat di anime Chainsaw Man.

Standar Developer dan Downgrade Pertarungan



Di satu sisi, sistem combat yang sederhana ini emang jadi berita bagus buat gamer kasual yang jarang menyentuh game action berat, karena mereka bakal dimudahkan banget dengan combo dan pemanfaatan skill yang ramah pengguna. Namun di sisi lain, buat gamer yang mengharapkan kedalaman mekanik, eksekusi pertarungan ini terhitung sangat mengecewakan. Kekecewaan ini makin terasa berat mengingat game ini datang dari Insomniac Games, developer kelas atas yang sebelumnya sukses besar mendobrak standar game superhero lewat seri Marvel’s Spider-Man. Kalau dibandingin secara langsung dengan Spider-Man, jelas terasa ada penurunan kualitas atau downgrade pada sistem pertempurannya. Nggak tahu pasti apa alasan di baliknya, mungkin keputusan bikin combo terbatas ini disengaja demi menyesuaikan gaya bertarung Wolverine yang asal terjang tanpa teknik khusus, tapi tetap saja, buat standar game keluaran Insomniac, eksekusi combat ini berasa kureng.

Baca ini juga :

» Review Death Stranding 2: On The Beach (PC)
» Review Ghost of Yōtei
» Review Marvel Spider-Man 2
» 7 Alasan Wajib Main Rise of the Ronin! Game Open World Rasa Souls Eksklusif Paling Dinanti
» 8 Tips Menjadi Ronin Terbaik di Game Open World Terbaru, Rise of the Ronin
» Rise of the Ronin - Review
» Spider-Man: Across the Spider-verse
» Guardians of the Galaxy Volume 3

Fitur Navigasi



Selain mekanik pertarungan, ada beberapa detail teknis dan aspek intuitif dalam game yang rasanya kurang dipikirkan dengan matang. Misalnya saat kalian lagi kebingungan mencari jalan keluar di suatu area, game ini bakal memberikan indikator petunjuk arah berupa jejak asap atau aroma berwarna biru. Masalahnya, visual asap biru ini malah kelihatan kayak bau kentut yang melayang-layang, padahal tim developer pasti bisa merancang bentuk petunjuk visual lain yang lebih menyatu dengan atmosfer lingkungan tempat Logan berada. Nggak cuma itu, sistem Quick Time Event (QTE) di game ini juga terasa agak aneh. Ada beberapa momen di mana kalian sengaja nggak memencet tombol yang diperintahkan di layar, tapi adegan QTE tersebut tetep dianggap berhasil dan lanjut begitu aja. Kejanggalan ini bikin muncul kesan kalau animasi visual untuk kegagalan QTE emang sengaja nggak disiapin atau lupa dimasukkan.

Sensasi Berkendara dan Detail Visual Lokal



Meskipun begitu, bukan berarti seluruh elemen gameplay-nya mengecewakan, karena aspek paling favorit justru datang dari adegan aksi kejar-kejaran menggunakan sepeda motor. Rasanya seru dan epic banget pas bisa melempar gas dan mengendalikan motor bareng karakter superhero se-brutal Logan. Sementara kalau bicara soal visual secara keseluruhan, nasibnya mirip kayak eksekusi combat. Di awal game, ekspektasi sempat membumbung tinggi berharap kualitas grafisnya bakal jauh melampaui apa yang pernah dipamerkan di trailer. Momen terpukau itu emang sempet kerasa pas scene Logan mau balik ke gubuknya, atau pas memasuki wilayah Madripoor yang secara mengejutkan menghadirkan gerobak jualan dengan tulisan berbahasa Indonesia, sebuah fan service yang manis banget buat gamer Indonesia. Tapi setelah melewati area-area itu, nggak ada lagi pencapaian visual menakjubkan yang mampu bikin mata terpana sampai game berakhir. Kualitas visualnya cuma bisa dikategorikan berada di taraf oke aja.

Selingan Minigames Mimpi Buruk

 Sebagai upaya melengkapi sajian ceritanya, Insomniac juga menyisipkan konten sampingan berupa mini-games yang mengambil wujud mimpi buruk sang mutant. Fitur mini-games ini statusnya unik, dibilang wajib enggak, tapi dibilang nggak penting juga sayang buat dilewati. Kalau kalian pengen dapet experience point (EXP) dengan cepat dan mudah, sangat disarankan buat nyelesaiin mode ini. Gerbang menuju mini-games yang berisi mode time attack dan rogue-like ini biasanya tersembunyi dan bisa dilacak lewat kemampuan mengendus bau milik Wolverine di beberapa stage. Tapi kalau kalian cuma pengen fokus main cerita utama tanpa gangguan, kalian bisa langsung menerobos lokasi tanpa menyentuh mini-games ini sama sekali. Walau begitu, buat pemain yang pengen menikmati pengalaman bermain yang lengkap, membereskan mini-games ini sangat direkomendasikan karena tingkat kesulitannya pun tergolong santai dan gampang dipahami.

Kesimpulan

 



Secara keseluruhan, Marvel’s Wolverine ini sebenarnya dibangun di atas fondasi yang sangat kuat. Bila dirangkum kelebihannya, game ini berhasil menyajikan variasi konten yang padat dan sangat menghibur, mulai dari selingan mode stealth, sekuens naik motor yang memacu adrenalin, sampai mini-games yang menyenangkan. Bagi para penggemar komik Marvel, taburan fan service yang bertebaran di sepanjang game dipastikan bakal bikin tersenyum puas. Penulisan karakternya pun patut diacungi jempol, di mana dinamika hubungan Logan dengan Sabertooth serta momen emosionalnya bersama Leech mampu memberikan kedalaman rasa pada narasi. Ditambah lagi, kombo yang ramah dan skill tree yang tidak rumit membuat game ini sangat terbuka untuk dimainkan oleh siapa saja tanpa hambatan belajar yang tinggi.

Namun di balik kelebihan tersebut, deretan kekurangan yang ada juga terlalu mencolok buat diabaikan. Eksekusi combat yang awalnya terasa beringas dengan cepat berubah jadi repetitif dan prediktabel akibat minimnya evolusi gerakan seiring perkembangan cerita. Potensi kebrutalan Logan sebagai Wolverine yang punya healing factor juga kerasa ditahan-tahan, sehingga aksi gore yang disajikan kurang maksimal baik dari segi movement maupun visual. Pertarungan game ini makin terasa serba tanggung saat dibandingkan dengan standar tinggi seri Spider-Man garapan developer yang sama. Ditambah alur cerita utama yang terlalu lurus dan gampang ditebak, potensi ketegangan yang harusnya bisa bikin senewen malah berakhir kendor di tengah jalan.

Pada akhirnya, Marvel’s Wolverine menjelma menjadi sebuah game yang paradoks: di satu sisi ia mampu tampil sangat menghibur lewat konsep yang padat dan karakterisasi yang menyentuh, namun di sisi lain ia terjebak dalam mekanik pertarungan yang repetitif dan gagal melompati standar tinggi yang ditetapkan oleh studio sebesar Insomniac Games. Game ini jelas masih sangat layak dan asyik buat dicicipi setidaknya sekali jalan. Ibarat kata, main game ini tuh berasa mirip kayak lagi makan martabak manis: pas makan potongan pertama rasanya enak dan mantap banget, tapi begitu dipaksa makan lagi buat kedua kalinya, rasanya malah bikin eneg. Pengalaman pertama tamat mainin game ini emang terasa fun, tapi buat nyoba playthrough kedua rasanya saya udah nggak tertarik lagi.

REVIEW SKOR

Kesimpulan Review

Marvel's Wolverine

90 KOTAKGAME RATING
  • (+) KELEBIHAN
  • Aksi brutal yang memuaskan
  • Variasi aksi seperti berkendara
  • Fans Service yang melimpah
  • (-) KEKURANGAN
  • Stealth yang nanggung
  • variasi combat dan skill minim
  • eksekusi cerita masih bisa dipoles lagi

BACA JUGA BERITA INI