Kalau kalian mengikuti sepak terjang Remedy Entertainment, kalian pasti tahu kalau studio yang satu ini memang tidak pernah main aman. Setelah sukses membuat kepala kita berasap lewat teka-teki ruang dan waktu di dalam The Oldest House pada game pertamanya, sekarang mereka kembali lagi lewat sekuel yang berjudul Control: Resonant. Jujur saja, waktu pertama kali mendengar game ini akan berubah haluan menjadi action-RPG semi open-world dengan fokus pada pertarungan jarak dekat, saya sempat skeptis. Formula shooter telekinetik kemarin kan sudah sangat ikonik, kenapa harus dirombak total? Tapi setelah nyemplung langsung dan menghabiskan puluhan jam di dalamnya, saya berani bilang kalau keputusan Remedy mengambil risiko gila ini benar-benar terbayar lunas. Control: Resonant bukan cuma sekadar sekuel biasa, tapi sebuah evolusi brutal yang membawa franchise ini ke dimensi yang sama sekali baru.

Story

Hal pertama yang paling bikin kaget tentu saja pergeseran karakter utamanya. Kita tidak lagi bermain sebagai Jesse Faden sang Direktur andalan biro, melainkan adiknya, Dylan Faden. Buat kalian yang main game pertamanya, kalian pasti ingat betapa kacaunya nasib Dylan yang sempat dikontrol penuh oleh The Hiss dan membunuh banyak agen FBC. Sekarang, setelah tujuh tahun koma dan lepas dari pengaruh buruk itu, Dylan terbangun di dunia yang sudah hancur lebur. Kota Manhattan kini sudah dikuasai oleh sisa-sisa The Hiss dan sebuah fenomena supranatural baru yang disebut "The Patterning". Fenomena gila ini membuat jalanan kota melengkung, gedung-gedung terbalik secara vertikal layaknya film Inception, dan mengubah hukum fisika kota sesuka hati. Di tengah kekacauan ini, Jesse malah menghilang tanpa jejak. Jadi, Dylan yang notabene adalah mantan "tahanan" dan kelinci percobaan FBC, sekarang harus maju ke garis depan untuk menyelamatkan keadaan, mencari kakaknya, dan sekaligus mencari penebusan dosa buat masa lalunya yang kelam.
Karakterisasi

Berbicara soal karakterisasi, pendekatan cerita Dylan ini terasa jauh lebih emosional dan dalam dibandingkan dengan perjalanan Jesse dulu. Dylan itu cowok yang pendiam, penuh dengan rasa bersalah, dan merasa kalau dirinya tidak lebih dari seorang monster. Kita benar-benar diajak untuk merasakan beban psikologis yang ia bawa di setiap langkahnya. Untungnya, dia tidak sendirian. Selama menjelajah Manhattan, Dylan dipandu oleh seorang handler baru bernama Zoe De Vera melalui komunikasi radio. Dinamika antara Dylan yang murung dan Zoe yang lebih pragmatis ini asik banget untuk diikuti. Kerennya lagi, game ini memberikan kita opsi untuk memilih respons dialog saat sedang mengobrol dengan Zoe. Pilihan ini memang tidak akan mengubah alur cerita secara drastis layaknya game RPG murni, tapi sangat memberikan ruang bagi kita untuk membentuk emosi Dylan—entah dia mau merespons dengan rasa bersalah yang mendalam, amarah, atau sekadar mencoba lebih terbuka. Interaksi ini bikin sosok Dylan terasa lebih manusiawi dan gampang banget membuat kita bersimpati pada nasibnya.
Baca ini juga :
» Game Gundam Fast-Paced yang Bawa IP ke Arah Baru! Preview GUNDAM ROGUE ORBIT
» Review SAROS
» Review - METAL GEAR SOLID Δ: SNAKE EATER
» Review Mafia: The Old Country
» Berpetualang di Dunia Padang Pasir Karya Akira Toriyama - Review Sand Land
» Masuk Naraka Diskon 30%! Review NARAKA: BLADEPOINT
» Horror Abis! Ini Dia 7 Momen Paling Horror di Game Non-Horror!
» Main Game Mobile RPG di Android Lebih Asyik Pake Emulator?
Combat

Sekarang kita masuk ke bagian paling adiktif dari game ini, yaitu sistem pertarungannya. Selamat tinggal senjata api Service Weapon, dan selamat datang Aberrant! Aberrant ini pada dasarnya adalah potongan material supranatural yang ditancapkan ke dada Dylan oleh Jesse sebelum ia menghilang, dan senjata ini bisa berubah-ubah bentuk sesuai dengan taktik yang kita mau. Kalian ingin gaya main cepat ala hack-and-slash? Ubah senjatanya menjadi sepasang pisau ganda. Butuh sapuan serangan area untuk melawan banyak musuh? Berubah jadi sabit raksasa. Ingin menghancurkan pertahanan musuh yang tebal? Tinggal ubah jadi palu besar atau bor tajam. Transisi pergantian senjata ini berjalan otomatis mengikuti kombo tombol serangan yang kita tekan, jadi pertempuran tidak akan terhenti hanya untuk membuka menu. Semuanya mengalir mulus, agresif, dan butuh refleks yang super tajam.
Sistem combat di Control: Resonant benar-benar dirancang untuk menghargai agresi tingkat tinggi. Jangan harap kalian bisa main aman berlindung di balik tembok atau sabar menunggu momen untuk menangkis, karena di game ini tidak ada mekanik parry sama sekali! Pertahanan terbaik kalian adalah menghindar dengan fitur dodge dan terus-terusan menyerang balik. Setiap musuh punya meteran Falter atau indikator stagger. Kalau meteran ini penuh, kita bisa mengeksekusi musuh dengan animasi brutal yang bakal ngasih kita buff bernama Dominance. Saat Dominance ini aktif, damage Dylan akan melonjak tajam dan musuh yang mati bakal menjatuhkan lebih banyak item penambah darah. Jadi, ritmenya terasa seperti tarian maut: hajar musuh pakai Aberrant, gunakan kekuatan telekinesis untuk melempar puing ke muka musuh, eksekusi mereka, dapatkan buff, dan lanjut habisi target berikutnya tanpa henti. Semakin berani kalian mengambil risiko untuk menyerang, semakin susah juga kalian matinya.
Traversal dan Fitur Lainnya

Beralih ke urusan eksplorasi dan fitur gamenya, Manhattan versi Control: Resonant adalah sebuah mahakarya desain level yang akan membuat otak kalian sedikit kram dalam artian yang positif. Karena efek dari The Patterning, dunia di game ini bertingkat-tingkat dan melanggar segala aturan gravitasi yang kita kenal. Untungnya, Dylan dibekali kemampuan mobilitas yang luar biasa sejak awal permainan. Dia bisa lompat ganda, melakukan dash di udara, melayang, sampai menarik dirinya menggunakan kemampuan semacam grappling hook. Tapi fitur yang paling gila adalah manipulasi gravitasi. Semakin jauh kalian main, kalian bakal bisa mengubah pusat gravitasi Dylan sesuka hati. Kalian bisa berlari santai di dinding gedung pencakar langit atau bahkan berjalan di langit-langit untuk mengejar bos musuh yang beterbangan. Desain pertarungan tiga dimensi yang sangat bebas ini bikin setiap pertemuan dengan musuh terasa sangat sinematik dan spektakuler.
Kalau kalian mengikuti sepak terjang Remedy Entertainment, kalian pasti tahu kalau studio yang satu ini memang tidak pernah main aman. Setelah sukses membuat kepala kita berasap lewat teka-teki ruang dan waktu di dalam The Oldest House pada game pertamanya, sekarang mereka kembali lagi lewat sekuel yang berjudul Control: Resonant. Jujur saja, waktu pertama kali mendengar game ini akan berubah haluan menjadi action-RPG semi open-world dengan fokus pada pertarungan jarak dekat, saya sempat skeptis. Formula shooter telekinetik kemarin kan sudah sangat ikonik, kenapa harus dirombak total? Tapi setelah nyemplung langsung dan menghabiskan puluhan jam di dalamnya, saya berani bilang kalau keputusan Remedy mengambil risiko gila ini benar-benar terbayar lunas. Control: Resonant bukan cuma sekadar sekuel biasa, tapi sebuah evolusi brutal yang membawa franchise ini ke dimensi yang sama sekali baru.

Story

Hal pertama yang paling bikin kaget tentu saja pergeseran karakter utamanya. Kita tidak lagi bermain sebagai Jesse Faden sang Direktur andalan biro, melainkan adiknya, Dylan Faden. Buat kalian yang main game pertamanya, kalian pasti ingat betapa kacaunya nasib Dylan yang sempat dikontrol penuh oleh The Hiss dan membunuh banyak agen FBC. Sekarang, setelah tujuh tahun koma dan lepas dari pengaruh buruk itu, Dylan terbangun di dunia yang sudah hancur lebur. Kota Manhattan kini sudah dikuasai oleh sisa-sisa The Hiss dan sebuah fenomena supranatural baru yang disebut "The Patterning". Fenomena gila ini membuat jalanan kota melengkung, gedung-gedung terbalik secara vertikal layaknya film Inception, dan mengubah hukum fisika kota sesuka hati. Di tengah kekacauan ini, Jesse malah menghilang tanpa jejak. Jadi, Dylan yang notabene adalah mantan "tahanan" dan kelinci percobaan FBC, sekarang harus maju ke garis depan untuk menyelamatkan keadaan, mencari kakaknya, dan sekaligus mencari penebusan dosa buat masa lalunya yang kelam.
Karakterisasi

Berbicara soal karakterisasi, pendekatan cerita Dylan ini terasa jauh lebih emosional dan dalam dibandingkan dengan perjalanan Jesse dulu. Dylan itu cowok yang pendiam, penuh dengan rasa bersalah, dan merasa kalau dirinya tidak lebih dari seorang monster. Kita benar-benar diajak untuk merasakan beban psikologis yang ia bawa di setiap langkahnya. Untungnya, dia tidak sendirian. Selama menjelajah Manhattan, Dylan dipandu oleh seorang handler baru bernama Zoe De Vera melalui komunikasi radio. Dinamika antara Dylan yang murung dan Zoe yang lebih pragmatis ini asik banget untuk diikuti. Kerennya lagi, game ini memberikan kita opsi untuk memilih respons dialog saat sedang mengobrol dengan Zoe. Pilihan ini memang tidak akan mengubah alur cerita secara drastis layaknya game RPG murni, tapi sangat memberikan ruang bagi kita untuk membentuk emosi Dylan—entah dia mau merespons dengan rasa bersalah yang mendalam, amarah, atau sekadar mencoba lebih terbuka. Interaksi ini bikin sosok Dylan terasa lebih manusiawi dan gampang banget membuat kita bersimpati pada nasibnya.
Baca ini juga :
» Game Gundam Fast-Paced yang Bawa IP ke Arah Baru! Preview GUNDAM ROGUE ORBIT
» Review SAROS
» Review - METAL GEAR SOLID Δ: SNAKE EATER
» Review Mafia: The Old Country
» Berpetualang di Dunia Padang Pasir Karya Akira Toriyama - Review Sand Land
» Masuk Naraka Diskon 30%! Review NARAKA: BLADEPOINT
» Horror Abis! Ini Dia 7 Momen Paling Horror di Game Non-Horror!
» Main Game Mobile RPG di Android Lebih Asyik Pake Emulator?
Combat

Sekarang kita masuk ke bagian paling adiktif dari game ini, yaitu sistem pertarungannya. Selamat tinggal senjata api Service Weapon, dan selamat datang Aberrant! Aberrant ini pada dasarnya adalah potongan material supranatural yang ditancapkan ke dada Dylan oleh Jesse sebelum ia menghilang, dan senjata ini bisa berubah-ubah bentuk sesuai dengan taktik yang kita mau. Kalian ingin gaya main cepat ala hack-and-slash? Ubah senjatanya menjadi sepasang pisau ganda. Butuh sapuan serangan area untuk melawan banyak musuh? Berubah jadi sabit raksasa. Ingin menghancurkan pertahanan musuh yang tebal? Tinggal ubah jadi palu besar atau bor tajam. Transisi pergantian senjata ini berjalan otomatis mengikuti kombo tombol serangan yang kita tekan, jadi pertempuran tidak akan terhenti hanya untuk membuka menu. Semuanya mengalir mulus, agresif, dan butuh refleks yang super tajam.



