space
TIM SWEENEY: VALVE KEHILANGAN PELUANG KARENA ABSENNYA FORTNITE DAN GENSHIN IMPACT DARI STEAM
Pop
8 jam yang lalu

Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

Makin update dengan berita game dan esports! Yuk subscribe ke channel YouTube KotakGame DI SINI dan Instagram KotakGame DI SINI! Bakal ada banyak FREE GIVEAWAY Diamonds, UC, PS4, gaming peripheral, dan lainnya!

CEO Epic Games, Tim Sweeney, kembali menyuarakan visinya mengenai ekosistem game yang lebih terbuka. Dalam pidatonya di Unreal Fest Chicago, Sweeney mengajak berbagai perusahaan industri game untuk membentuk sebuah inisiatif yang ia sebut "Team Open," dan menurutnya, Valve selaku pemilik Steam juga seharusnya menjadi bagian dari visi tersebut.

Dalam wawancara bersama PC Gamer, Sweeney menjelaskan bahwa ia ingin melihat Steam berkembang melampaui ekosistem PC dan hadir di lebih banyak platform, termasuk perangkat mobile.

Menurut Sweeney, meski Steam saat ini mendominasi distribusi game PC, platform tersebut belum menjangkau seluruh pasar gamer.

Ia mencontohkan sejumlah game populer seperti Fortnite, game-game milik Riot Games, hingga Genshin Impact yang tidak tersedia di Steam. Akibatnya, Valve dinilai kehilangan peluang untuk menjangkau jutaan pemain yang aktif di luar platform mereka.

Sweeney percaya Steam bisa memperluas jangkauannya apabila mengadopsi pendekatan yang lebih terbuka, serupa dengan strategi yang mulai diterapkan Epic Games maupun Microsoft.


Salah satu gagasan terbesar yang disampaikan Sweeney adalah menghadirkan Steam di berbagai platform, termasuk iPhone dan Android.

Menurutnya, Steam sudah memiliki fondasi bisnis yang sangat kuat dan dicintai para gamer PC. Namun ia mempertanyakan potensi yang bisa diraih apabila layanan tersebut dapat digunakan lintas platform dan mendistribusikan lebih banyak game di luar ekosistem PC.

Sweeney juga menyoroti kebijakan toko aplikasi lain yang mulai lebih ramah terhadap developer. Ia menyebut Microsoft Store kini hanya mengambil komisi sebesar 12 persen, sementara Google juga mulai menawarkan skema yang lebih menguntungkan bagi para pengembang.

Meski menawarkan kolaborasi, peluang Valve mengikuti visi "Team Open" dinilai masih cukup kecil.

Selama bertahun-tahun, Valve mempertahankan strategi bisnis yang relatif konsisten untuk Steam, sembari memperluas lini perangkat keras melalui produk seperti Steam Deck, Steam Controller, Steam Machine, hingga perangkat VR terbaru mereka.

Baca ini juga :
» Steam Machine Resmi Umumkan Harga, Dipatok Mulai Dari $1049 USD
» Case Steam Deck Rusak Oleh Bayi, Gamer Ini Diberikan Gantinya Secara Gratis
» Valve Kembali Digugat! Kali Ini Oleh Organisasi Non-Profit Belanda
» Harga Persona 4 Revival Di Indonesia Jadi Harga Game Termurah Di Dunia?
» Steam Dituduh Monopoli Penjualan Game, Gabe Newell Menyangkal Hal Ini
» CEO Epic Games Sindir Valve dan Gaben Soal Kenaikan Harga Steam Deck
» Valve Menaikan Harga Steam Deck OLED, Handheld Gaming Udah Gak Affordable?
» Epic Games Resmi Umumkan Unreal Engine 6

Selain itu, hubungan Epic Games dan Valve juga sempat memanas karena perbedaan pandangan mengenai penggunaan AI generatif dalam pengembangan game. Beberapa waktu lalu, Tim Sweeney mengkritik Valve setelah Steam mewajibkan developer mengungkapkan apakah mereka menggunakan teknologi AI generatif dalam proses pembuatan game atau konten di platform tersebut.

Hingga saat ini, Valve belum memberikan tanggapan terkait ajakan Tim Sweeney untuk bergabung dalam konsep "Team Open", sehingga masih belum diketahui apakah kedua perusahaan suatu hari nanti akan memiliki visi yang sejalan mengenai masa depan distribusi game digital.

TAGS

BACA JUGA BERITA INI
close