Elon Musk, sosok eksentrik yang dikenal sebagai inovator besar di balik Tesla dan SpaceX, kini tengah menghadapi kenyataan pahit dari ambisi politiknya. Setelah resmi bergabung dalam pemerintahan Donald Trump sebagai Co-President dan memimpin kampanye efisiensi bertajuk DOGE (Department of Government Efficiency), kini Musk harus angkat kaki dari panggung politik dengan reputasi yang compang camping.
Layaknya istilah teknis SpaceX, perjalanan politik Musk berakhir dengan “rapid unscheduled disassembly”, atau kegagalan total yang datang secara cepat dan tak terduga.
Sejak awal, program DOGE memang diklaim sebagai langkah sementara. Namun, tak butuh waktu enam bulan untuk melihat bagaimana tokoh yang dulu digaungkan dalam kampanye Trump ini kini meninggalkan panggung secara diam-diam. Ia yang dulu begitu vokal, hadir di rapat kabinet dan panggung CPAC, kini perlahan menghilang dari sorotan dengan reputasi yang hancur.
Secara substansi, masa jabatannya dinilai sebagai kegagalan besar yang merusak banyak hal. Di bawah kepemimpinannya, banyak pakar profesional dipecat dari posisi penting. Penelitian medis strategis terhenti, dan sejumlah lembaga pemerintah kini beroperasi jauh lebih buruk. Bahkan di negara-negara berkembang, dampak pemotongan bantuan luar negeri dari AS diperkirakan menyebabkan penderitaan besar. Program seperti USAID dan PEPFAR (bantuan AIDS) kini terancam, dengan potensi kematian ribuan hingga jutaan orang sebagai konsekuensi kebijakan "efisiensi" ala Musk.
Lebih ironis lagi, meski Musk menjanjikan pemangkasan anggaran hingga USD 2 triliun, hasil nyatanya hanya USD 175 miliar, itu pun menurut perhitungannya sendiri yang dinilai tak akurat. Bahkan lembaga libertarian seperti Cato Institute menyebut Musk “terlalu banyak berjanji dan minim hasil nyata.”
Upaya Musk merevolusi birokrasi dengan pendekatan Silicon Valley juga terbukti tidak realistis. Seorang rekan dalam DOGE, Sahil Lavingia, mengakui bahwa anggapannya soal pegawai negeri malas adalah keliru. Justru, banyak staf pemerintah memiliki dedikasi tinggi. Ironisnya, setelah menyampaikan pernyataan ini ke media, akses Lavingia ke departemen dicabut begitu saja.
Baca ini juga :
» Tak Henti-Hentinya Membuat Drama, Kali Ini Elon Musk Bawa Apple Dan OpenAI Ke Meja Hijau Bersamaan!
» Bak Drama Sosmed Di Indonesia, Elon Musk dan Sam Altman RIbut di Twitter Cuman Karena Peringkat App
» Selain Grok, Elon Musk Juga Akan Membuat ‘Baby Grok’ Yang Akan Menjadi Aplikasi AI Ramah Anak
» Donald Trump Mempertimbangkan Untuk Deportasi Elon Musk. Dampaknya ke Dunia Teknologi?
» Tesla Telah Melakukan Uji Coba Terhadap Robotaxinya Meskipun yang Lain Telah Merilis, Siap Bersaing?
» CEO Telegram Pavel Durov Ditangkap Di Prancis, Elon Musk Gunakan Tagar "#FreePavel"
» Segera Hadir di Indonesia! Ini Dia Cara dan Harga Berlangganan ISP Starlink Milik Elon Musk!
» Menurut Elon Musk, AI Bisa Saja Membahayakan Peradaban Manusia di Masa Depan
Kini, Musk tengah berusaha mencuci tangan. Dalam wawancara dengan CBS News, ia menyatakan bahwa dirinya tidak selalu sepaham dengan kebijakan pemerintahan, seolah mencoba menjauhkan diri dari keputusan yang dia buat sendiri. Namun publik tak mudah lupa, terutama mereka yang melihat Musk tampil di panggung sambil mengacung-acungkan gergaji mesin, membanggakan pemangkasan anggaran besar-besaran.
Puncak dari keruntuhan reputasinya terjadi di Wisconsin, saat Musk mendukung kandidat konservatif Brad Schimel dalam pemilu Mahkamah Agung setempat. Dengan mengenakan topi keju khas lokal, ia menginvestasikan jutaan dolar — namun kalah telak. Warga menyebutnya "miliarder menyebalkan" dan "pengganggu yang merusak segalanya."
Secara nasional, survei menunjukkan tingkat ketidaksukaan terhadap Musk mencapai 54%. Bahkan bisnisnya ikut terdampak: penjualan Tesla anjlok, terutama di Eropa yang mengalami penurunan hampir 50% dalam setahun. Para pemegang saham kini mendesak Musk untuk kembali fokus ke Tesla, karena mobil-mobil listriknya bahkan dibiarkan terbengkalai di parkiran pusat perbelanjaan kosong di Detroit.
Kesimpulannya? Elon Musk gagal total dalam perjalanannya di dunia politik. Ia datang dengan ego besar dan keyakinan bahwa gaya disruptif-nya bisa mengubah pemerintahan. Nyatanya, rakyat lebih memilih ia kembali ke tempat asalnya: laboratorium dan ruang konferensi, bukan ruang kabinet.
Selain berita utama di atas, KotakGame juga punya video menarik yang bisa kamu tonton di bawah ini.